Karhutla Masuk Kategori Bencana? Apa Alasanya?

Foto Kebakaran Hutan Tahun 2026
Foto Kebakaran Hutan Tahun 2026

Dalam Islam, Bencana atau Musibah adalah setiap peristiwa atau kejadian yang menyusahkan yang menimpa manusia atas kehendak Allah SWT.

Hakikat Musibah

Secara bahasa, musibah berarti sesuatu yang mengenai atau menimpa dengan tepat.

Dalam Al-Qur'an, musibah tidak selalu bermakna buruk, tetapi mencakup segala ketetapan Allah untuk menguji manusia.

“Menurut saya, kebakaran hutan dan lahan dapat dimasukan dalam kategori musibah, yaitu musibah orang banyak atau kolektif” Ungkap Pimpinan Yayasan Baitul Muttaqin Bumitrans, di Kalimantan Tengah (09/09/2026).

“Kenapa masuk kategori musibah, karena sifatnya menyusahkan atau mempersulit kepentingan seseorang atau orang banyak, tentu saja dari Tuhan ada maksud tertentu, bagi yang memahaminya berarti ia diberikan Hikmah atau pemahaman” Lanjutnya.

Sikap Orang Beriman atas Musibah

Menurut Pimpinan Yayasan Baitu Muttaqin, Orang beriman memiliki sikap yang jelas dalam musibah. Bagi yang tertimpa musibah, biasanya dapat lebih bersabar dan Ridha, misalnya menyadari "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali), sehingga dapat menahan diri dari keluh kesah berlebihan, kemarahan, atau putus asa, kemudian berusaha menerima ketetapan (qadar) Allah SWT dengan lapang dada.

Selain bersabar, orang beriman juga Introspeksi Diri (Muhasabah), yaitu menjadikan musibah sebagai sarana evaluasi diri atas kesalahan atau kelalaian masa lalu, kemudian memperbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah SWT.

Memberikan Pertolongan, saling membantu, saling peduli.

Orang yang mengamalkan kalimat “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami Kembali” tentu memiliki jiwa yang sabar, kemudian suka tolong menolong.

Kenapa sabar dan suka menolong? Karena baginya, segala sesuatu berasal dari satu atau Esa, kemudian melahirkan hal yang menjadi banyak, tujuannya sebagai ujian bagi dirinya maupun orang lain, hal yang banyak itu dinamakan dengan nama ''alam semesta''.

“Saya meyakini orang Islam dengan keimanan tinggi menyadari bahwa Sifat dan Perbuatan yang membentuk alam semesta ini diberlakukan oleh Dzat yang Tunggal atau Esa, kemudian alam semesta ini melahirkan sifat baru yang dapat dipelajari. Sifat baru dimaksud seperti air dengan sifat dan kandunganya, api dengan sifat dan kandunganya , angin dengan sifat dan kandunganya, bumi atau tanah dengan sifat dan kandunganya, yang kemudian unsur-unsur tersebut dengan sifat dan kandungan masing-masing menjadi bahan yang membentuk tubuh dan menggerakkan fikiran manusia manusia secara rahasia dan unik, sehingga manusia dapat berkembang, berfikir, bergerak, berupaya atau berusaha dalam mempertahankan kehidupanya didunia ini.

Adapun upaya atau usaha mempertahankan kehidupan di dunia dalam Islam dinamakan Ikhtiar.

Dorongan ikhtiar ini melahirkan tenaga, kesanggupan, strategi atau cara, muaranya berupa harta dan benda” Ungkap Pimpinan Yayasan tersebut.

Bagi orang beriman, tenaga, kesanggupan, harta, pangkat, kejeniusan atau apapun yang ada pada dirinya adalah merupakan pemberian Tuhan melalui kejadian sebagaimana diatas, sehingga ia hanya akan menggunakan pemberian tersebut untuk kebaikan dan kemaslahatan, seperti kewajiban bertahan hidup layak dan tolong menolong, tentu saja tolong menolong dimaksud dengan ukuran-ukuran tertentu, tidak sampai membuat diri sendiri kesulitan apalagi binasa” Ungkap Pimpinan Yayasan tersebut.

"Pendapat saya, Karhutla dapat masuk kategori bencana, agar manusia melatih diri bersabar, peduli dan tolong menolong" Pungkasnya.

Editor : Buliran News