KAMPAR — Dosen dan mahasiswa Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah (IKTA) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tentang deteksi dini risiko penyakit tular air berbasis perilaku dan sanitasi di wilayah pinggiran sungai. Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Kognitif Masyarakat dalam Deteksi Dini Risiko Penyakit Tular Air Berbasis Perilaku dan Sanitasi di Wilayah Pinggiran Sungai” ini berlangsung pada 18–24 September 2026 di Desa Lubuk Siam, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai faktor risiko penyakit tular air serta pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Edukasi ini dilaksanakan dengan mempertimbangkan karakteristik lingkungan permukiman di wilayah pinggiran sungai yang berkaitan dengan penggunaan air, kebiasaan higiene, dan kondisi sanitasi rumah tangga.
Dalam pelaksanaannya, tim PKM menggunakan tiga pendekatan utama, yaitu edukasi interpersonal dari rumah ke rumah, pembagian buku saku, dan edukasi kelompok. Melalui pendekatan tersebut, informasi kesehatan disampaikan secara langsung agar lebih mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Edukasi interpersonal dilakukan dengan mengunjungi rumah warga untuk memberikan penjelasan mengenai risiko penyakit tular air dan langkah-langkah pencegahannya. Pendekatan ini juga membuka ruang komunikasi dua arah sehingga masyarakat dapat berdiskusi mengenai kebiasaan sehari-hari yang berkaitan dengan penggunaan air dan sanitasi lingkungan.
Selain itu, tim membagikan buku saku edukasi kepada 20 rumah tangga sebagai media informasi yang dapat dipelajari kembali secara mandiri. Edukasi kelompok juga dilakukan dengan melibatkan masyarakat, termasuk ibu-ibu yang sedang berkumpul untuk bermain bola voli. Pemanfaatan aktivitas sosial masyarakat tersebut menjadi salah satu cara untuk menyampaikan informasi kesehatan melalui suasana yang lebih akrab dan komunikatif.
Materi edukasi meliputi pengenalan penyakit tular air, faktor risiko dan jalur penularan, pengelolaan air minum yang aman, kebiasaan mencuci tangan, higiene perorangan, serta pentingnya menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan. Masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengolah dan menyimpan air minum secara aman serta menjaga kebersihan lingkungan rumah untuk mengurangi risiko penularan penyakit.
Untuk mengevaluasi pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan, tim melaksanakan pre-test sebelum edukasi dan post-test setelah kegiatan edukasi. Evaluasi ini digunakan untuk mengumpulkan data mengenai pemahaman peserta. Analisis terhadap hasil kedua tes diperlukan untuk mengetahui perubahan tingkat pemahaman masyarakat setelah mengikuti kegiatan.
Selama pelaksanaan, tim menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan waktu untuk menemui warga yang bekerja pada pagi hingga siang hari, perbedaan bahasa dalam komunikasi sehari-hari, serta akses internet yang kurang stabil. Untuk mengatasi kendala komunikasi, tim menyesuaikan penyampaian materi dengan menggunakan bahasa Ocu yang akrab bagi masyarakat setempat. Penyesuaian ini membantu membangun komunikasi yang lebih dekat sehingga informasi kesehatan dapat disampaikan dengan lebih mudah dipahami.
Melalui kegiatan PKM ini, IKTA mendorong peningkatan peran aktif masyarakat Desa Lubuk Siam dalam mengenali faktor risiko penyakit tular air dan menerapkan perilaku higiene serta sanitasi yang baik. Edukasi tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga keamanan air minum dan kesehatan lingkungan secara berkelanjutan.
Kegiatan ini juga menunjukkan pentingnya pendekatan edukasi kesehatan yang menyesuaikan diri dengan kondisi sosial dan kebiasaan masyarakat setempat. Dengan komunikasi yang efektif dan informasi yang mudah diakses, masyarakat diharapkan semakin mampu menerapkan langkah-langkah pencegahan penyakit tular air dalam kehidupan sehari-hari. (red/adri)
Editor : Hamriadi