Cegah Stunting Sejak Remaja, Dosen Al Insyirah Bekali 50 Anggota PMR SMA Negeri 5 Pekanbaru Jadi Edukator Sebaya

Cegah Stunting Sejak Remaja, Dosen Al Insyirah Bekali 50 Anggota PMR SMA Negeri 5 Pekanbaru Jadi Edukator Sebaya
Cegah Stunting Sejak Remaja, Dosen Al Insyirah Bekali 50 Anggota PMR SMA Negeri 5 Pekanbaru Jadi Edukator Sebaya

PEKANBARU – Anemia masih menjadi masalah kesehatan yang perlu diwaspadai pada remaja di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi anemia pada kelompok usia 15–24 tahun, yang mencakup usia remaja, sebesar 15,5 persen. Artinya, sekitar 15 sampai 16 dari setiap 100 penduduk pada kelompok usia tersebut mengalami anemia. Pada semua kelompok usia, prevalensi anemia pada perempuan (18,0 persen) juga lebih tinggi dibandingkan laki-laki (14,4 persen).

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan stunting tidak harus menunggu seseorang menjadi orang tua. Semangat itulah yang dibawa tim dosen Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah saat melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) di Aula SMA Negeri 5 Pekanbaru pada Jumat, 30 Oktober 2026, pukul 14.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh 50 siswa anggota Palang Merah Remaja (PMR) sekolah tersebut.

Kegiatan bertajuk “Peningkatan Literasi Gizi dan Pencegahan Anemia pada Remaja melalui Pendekatan Holistic Care Berbasis Peer Educator sebagai Upaya Pencegahan Stunting Antargenerasi” ini menempatkan remaja sebagai bagian dari solusi. Melalui pendekatan peer educator atau pendidik sebaya, anggota PMR dibekali pengetahuan agar dapat menjadi sumber informasi kesehatan bagi teman-temannya di sekolah.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh dosen keperawatan Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah yang diketuai oleh Ns. Ika Permanasari, M.Kep, dengan anggota Ns. Destria Efliani, MM, M.Kep dan Ns. Tengku Isni Yuli Lestari Putri, M.Kes. Tim juga melibatkan dosen kesehatan masyarakat, Eva Mayasari, M.Kes. Dari pihak sekolah, kegiatan didampingi oleh Pembina PMR, Anggri Anggraini, S.Si, dan Koordinator UKS, Rinawati, S.KM.

Kegiatan dimulai dengan penilaian awal untuk mengetahui pemahaman anggota PMR tentang anemia pada remaja dan dampaknya terhadap generasi berikutnya. Hasil penilaian ini menjadi gambaran pengetahuan siswa sebelum menerima materi sekaligus pembanding untuk mengukur perubahan pemahaman setelah edukasi.

Setelah itu, tim memberikan penyuluhan selama kurang lebih 45 menit. Materi diawali dengan penjelasan mengenai kondisi anemia pada remaja, kemudian dilanjutkan dengan pentingnya peranan gizi bagi remaja dan cara menanggulangi anemia. Tim juga menjelaskan kaitan antara anemia pada masa remaja dan risiko stunting pada generasi berikutnya.

Anemia kerap dianggap sepele karena gejalanya, seperti mudah lelah dan sulit berkonsentrasi, sering dikira sebagai kelelahan biasa. Padahal, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas belajar remaja. Remaja putri termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena kehilangan darah saat menstruasi dapat meningkatkan kebutuhan zat besi.

Dampaknya juga dapat berlanjut hingga masa depan. Remaja putri dengan anemia yang tidak tertangani berisiko memasuki masa kehamilan dalam kondisi kurang optimal, yang dapat memengaruhi pertumbuhan janin dan meningkatkan risiko stunting pada anak. Karena itu, perbaikan pola makan dan pencegahan anemia sejak remaja dipandang sebagai salah satu langkah penting untuk memutus mata rantai masalah gizi antargenerasi.

Pendekatan holistic care dalam kegiatan ini mendorong siswa memandang kesehatan secara menyeluruh, tidak sebatas mengenali gejala anemia. Siswa juga diajak memahami pentingnya asupan gizi, upaya pencegahan, dan dampak jangka panjang dari kondisi kesehatan mereka saat ini.

Literasi gizi tidak hanya berarti mengetahui nama zat gizi. Kemampuan ini juga mencakup memahami kebutuhan tubuh, memilih makanan yang tepat, dan menerapkannya dalam kebiasaan sehari-hari. Bagi remaja, kemampuan tersebut penting karena masa ini merupakan periode pertumbuhan yang pesat, sehingga kebutuhan zat gizi ikut meningkat.

Di sisi lain, remaja mulai lebih bebas menentukan makanannya sendiri. Kebiasaan melewatkan sarapan, sering mengonsumsi jajanan rendah gizi, atau membatasi makan tanpa panduan yang tepat dapat membuat kebutuhan gizi tidak terpenuhi. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat memperbesar risiko kekurangan zat besi yang menjadi salah satu penyebab anemia.

Secara umum, pencegahan anemia dapat dimulai dari pola makan bergizi seimbang. Sumber zat besi antara lain daging merah, hati, ikan, telur, kacang-kacangan, dan sayuran berdaun hijau. Buah yang kaya vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi, sedangkan teh dan kopi sebaiknya tidak diminum bersamaan dengan waktu makan karena dapat menghambat penyerapannya. Remaja putri juga dianjurkan mengikuti program tablet tambah darah sesuai arahan tenaga kesehatan. Siswa yang mengalami keluhan berkepanjangan sebaiknya memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Pemilihan anggota PMR sebagai peserta sejalan dengan pendekatan peer educator yang diusung dalam kegiatan ini. Sebagai siswa yang aktif dalam kegiatan kepalangmerahan dan kesehatan di sekolah, mereka berada dalam posisi yang tepat untuk meneruskan informasi kepada teman sebaya.

Pesan kesehatan dari teman sendiri sering kali terasa lebih dekat dan mudah diterima karena disampaikan dengan bahasa dan pengalaman yang serupa. Dengan demikian, manfaat kegiatan diharapkan tidak berhenti pada 50 peserta yang hadir di aula, tetapi dapat menjangkau lebih banyak siswa melalui interaksi sehari-hari di sekolah.

Pendampingan dari Pembina PMR dan Koordinator UKS juga menunjukkan adanya dukungan sekolah dalam kegiatan ini. Keterlibatan kedua pihak tersebut penting karena PMR dan UKS merupakan wadah yang dekat dengan kegiatan kesehatan siswa di sekolah.

Usai penyuluhan, tim kembali mengukur tingkat pemahaman siswa untuk melihat perubahan pengetahuan setelah edukasi diberikan. Pengukuran sebelum dan sesudah kegiatan ini menjadi dasar evaluasi pelaksanaan program.

Sebagai penutup, anggota PMR menerima buku saku tentang peningkatan literasi gizi dan pencegahan anemia pada remaja. Buku saku ini dapat menjadi bahan belajar mandiri sekaligus panduan bagi siswa saat berbagi informasi dengan teman sebaya di lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan ini, kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian remaja terhadap gizi dan kesehatan diri. Dengan bekal yang diperoleh, anggota PMR SMA Negeri 5 Pekanbaru diharapkan dapat menjadi penggerak perilaku hidup sehat di sekolah, sekaligus turut berperan dalam upaya pencegahan stunting bagi generasi mendatang.(red/adri)

Editor : Redaktur Buliran
Tag: