Manusia sering hidup dalam ketakutan. Manusia sering takut ditinggalkan, takut tidak dibantu, takut berjalan sendirian menghadapi hidup yang terasa begitu berat. Karena itu, banyak orang menggantungkan ketenangannya kepada manusia lain. Ada yang merasa hidupnya aman hanya jika memiliki pasangan tertentu, pekerjaan tertentu, relasi tertentu, atau pengakuan dari orang-orang di sekitarnya. Padahal manusia adalah makhluk yang mudah berubah. Hari ini bisa menetap, besok bisa pergi. Hari ini bisa menolong, esok belum tentu tetap ada. Ketika hati terlalu bergantung kepada manusia, maka hidup akan dipenuhi kecemasan karena sandaran yang dipakai memang rapuh sejak awal.
Berbeda dengan seseorang yang benar-benar meyakini bahwa Allah adalah cukup bagi hidupnya. Keyakinan seperti itu bukan berarti menolak bantuan manusia atau memilih hidup sendirian, melainkan menempatkan hati pada tempat yang benar. la tetap bekerja, tetap berteman, tetap mencintai dan membutuhkan orang lain sebagai bagian dari kehidupan. Namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa sumber pertolongan sejati bukan manusia. Jika manusia pergi, ia tidak hancur. Jika bantuan tidak datang, ia tidak kehilangan harapan. Sebab sandaran utamanya tidak pernah berubah dan tidak pernah meninggalkannya.
Keyakinan semacam itu melahirkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Orang yang hatinya bergantung kepada Allah biasanya tidak mudah putus asa ketika hidup terasa sepi. la tidak terlalu sibuk mencari validasi manusia karena harga dirinya tidak ditentukan oleh penerimaan orang lain. la juga tidak mudah merendahkan dirinya demi dipertahankan oleh siapa pun. Sebab ia tahu bahwa manusia hanyalah perantara, sementara Allah adalah pemilik seluruh jalan hidupnya. Ketika satu pintu tertutup, ia percaya masih ada pintu lain yang bisa dibukakan oleh Tuhan dengan cara yang tidak disangka-sangka.
Sumber : SS