Jumlah Kematian di Jatim Tinggi, Pasien Banyak Meninggal di IGD

Jumlah Kematian di Jatim Tinggi, Pasien Banyak Meninggal di IGD
Jumlah Kematian di Jatim Tinggi, Pasien Banyak Meninggal di IGD

BuliranNews, SURABAYA - Tingginya angka kematian pasien Covid-19 di Provinsi Jawa Timur, membuka mata banyak pihak. Sebab, saat jumlah kematian di DKI Jakarta turun, Jawa Timur justru meroket menjadi yang terbanyak.Terkait hal itu, ketua Rumpun Kuratif Satgas Penanganan Covid-19 Jatim dr Joni Wahyuhadi mengatakan angka kematian tinggi, terutama di Instalasi Gawat Darurat (IGD), di wilayahnya masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang belum bisa terselesaikan.

Kasus kematian covid-19 di Indonesia menembus angka 102.375 kasus. Provinsi Jawa Timur (Jatim) menjadi daerah yang terbanyak menyumbang angka mortalitas sebanyak 21.981 kasus."Mungkin yang meninggal masih menjadi PR buat kami," ujar Joni di Surabaya, Kamis (5/7).

Saat ini, kata Joni, angka kematian pasien Covid-19 di Jatim menyentuh angka 6,82 persen. Namun, jumlah tersebut mengalami penurunan dari sebelumya mencapai 7,15 persen."Memang angka kematian tinggi, diikuti juga kenaikan kasus yang tinggi. Semakin banyak case Covid-19, tentu semakin banyak angka kematian," ucapnya.

Dirut RSUD dr Soetomo itu juga mengatakan bahwa para pasien tersebut kebanyakan meninggal ketika tiba di IGD. Rata-rata, mereka datang dalam kondisi kritis dengan saturasi oksigen yang rendah."Saat ini banyak sekali kematian yang di UGD, di ruang isolasi. (Pasien) datang dengan saturasi yang rendah, datang dengan saturasi kurang dari 93," ucapnya.

Berdasarkan data profile mortalitas Covid-19 di RSUD dr Soetomo yang tercatat Januari-Juli 2021, kematian pasien terbanyak terjadi di IGD, angkanya mencapai 22,33 persen, kemudian isolasi 12,21 persen, HCU 12,12 persen, ICU 5,05 persen dan NICU 0,09 persen.Karena itu pihaknya pun membuat beberapa upaya dalam menangani tingginya angka kematian tersebut. Salah satunya dengan memperbanyak tempat isolasi terpusat bagi warga bergejala.

"Ruang isolasi terpusat buat pasien yang awalnya isoman terus dipantau, agar tidak ada pasien yang memburuk kondisinya dengan dipantau oleh dokter yang terkoneksi langsung RS rujukan," ujarnya. (*/rd)

Editor : Buliran News
Tag: