TRAGEDI TUMBANG KALEMEI SINYAL DARURAT NARKOBA MASUK DESA

Supardi S Depung, Sekretaris Wilayah LSM Lumbung Informasi Rakyat Kalimantan Tengah
Supardi S Depung, Sekretaris Wilayah LSM Lumbung Informasi Rakyat Kalimantan Tengah

Berbicara tentang narkoba seperti tidak ada habis-habisnya

Dewasa ini bukan rahasia lagi bahwa narkoba sudah masuk dan merambah ke desa-desa, bahkan ke hutan-hutan.

Kini sasarannya bukan cuma anak-anak muda, bahkan sudah menyasar ke usia anak sekolah, seperti SMP dan SMA, sampai kepada para pekerja di hutan-hutan.

Akhir-akhir ini banyak orang tua di Kalimantan Tengah yang curhat ke media ini, bukan hanya menyampaikan ke khawatiran , lebih jauh mereka seolah-olah hampir putus asa menatap masa depan anak-anak mereka, keluarga mereka.

“Bagaimana tidak, perkembangan prilaku yang semakin jauh dari norma agama dan budaya, semakin membuat banyak orang menjadi bingung akan hidupnya sendiri, sedangkan disisi lain fitrah setiap orang selalu menuntut kepada dirinya untuk berjalan menuju ke arah jati dirinya, ini adalah fitrah setiap manusia, terlepas dari agama apapun, budaya apapun” Ungkap Sekretaris LSM LIRA Kalteng.

“Maka semakin ia berjalan menjauh dari jati dirinya, semakin ia kosong, hampa, takut dan merasa serba salah, maka untuk mengobati rasa hampa, rasa tidak nyaman, rasa serba salah, rasa bingung, dan rasa takut diantaranya dengan mengkonsumsi narkoba” Tambahnya.

“Jadi masalah narkoba ini bermula dari masalah sumber daya manusia, lalu merambah ke masalah ekonomi, sosial dan budaya” tambahnya.

Menurut aktivis tersebut, narkoba merambah ke masalah ekonomi karena kecanduan, harga mahal, dan tidak sesuai dengan pendapatan.

Kemudian merambah kepada masalah sosial budaya, karena orang yang kecanduan narkoba tentu berkebutuhan tinggi, relative egois, dan relative tidak dapat dipercaya mengemban amanah atau tanggung jawab, baik tanggungjawab terhadap diri sendiri, termasuk terhadap keluarga dan tanggung jawab sosial.

“Kenapa berani saya katakana demikian, jika ia mampu mengendalikan diri sendiri atau bertanggung jawab terhadap diri sendiri, tentu ia mampu untuk tidak menjerumuskan diri dalam kecanduan narkoba yang notabene menguras ekonomi dan sumberdaya, dan bukan hanya itu, kecanduan narkoba juga menutup jalan bagi diri sendiri untuk berkembang menjadi lebih baik, lebih aman, lebih sehat dan lebih manusiawi” ungkap aktivis tersebut.

Menurut Sekwil LSM LIRA Tersebut bahwa kekuatan penegak hukum saja tidak akan cukup dalam memberantas narkoba, karena ia bahkan sudah merambah ke desa-desa, bahkan ke hutan-hutan tempat para pekerja.

‘Fenomena yang terjadi di desa Tumbang Kalemei, Katingan baru-baru ini membuktikan dengan gamblang bahwa kekuatan penegak hukum saja tidak cukup dalam memberantas narkoba, karena ia telah merambah ke desa bahkan ke hutan tempat para pekerja. Apakah anda tau, justru “jalan setapak” adalah akses yang paling aman bagi peredaran narkoba? maka dari itu untuk identifikasi akurat, dibutuhkan struktur dan personel intelijen yang faham betul seluk beluk “Jalan setapak” ini berikut perilaku para pengedar sampai kepada struktur budaya para pemakai, maka kami menyarankan agar penegak hukum mulai menyusun pola baru, diantaranya bekerjasama dengan intelijen lokal seperti aktivis di desa misalnya” ungkap aktivis tersebut.

“Adapun untuk rekruitmen calon intelijen lokal, saya rasa tidak sulit, banyak para orang tua, para isteri, para saudara yang kecewa dengan pengedar narkoba karena ada anggota keluarga mereka yang telah menjadi korban barang haram tersebut, yang kemudian sulit ditegur, sulit dinasehati, boros, pemalas, tidak bertanggung jawab, tidak dapat dipercaya, bahkan arogan” lanjutnya.

“Saya kira kita sepakat bahwa narkoba ini bukan hanya bertolak belakang dengan upaya kita bersama dalam memanusiakan manusia, akan tetapi lebih jauh dia adalah musuh bersama kita semua dalam cita-cita yang kita perjuangkan melalui berbagai program, baik program Pembangunan infrastruktur, pembangunan sumberdaya manusia melalui Pendidikan dan pelatihan termasuk melalui penyuluhan agama, sampai kepada program-program ekonomi dan sosial lainya yang menguras keuangan negara, jadi pertanyaanya bagaimana di satu sisi kita membangun, sedangkan disisi lain ada yang merusak bahkan menghancurkanya?” pungkasnya.

Editor : Buliran News