Apakah Utang Puasa Ramadhan Harus Dibayar Berturut-turut?

Apakah Utang Puasa Ramadhan Harus Dibayar Berturut-turut?
Apakah Utang Puasa Ramadhan Harus Dibayar Berturut-turut?

Mengenakan puasa Ramadhan adalah salah satu kewajiban setiap Muslim. Oleh karena itu, ketika Bunda tidak bisa menjalankannya, disarankan untuk menggantinya dengan lain hari sebelum Ramadhan berikutnya.

Nur Solikhin menjelaskan bahwa segera mengganti ibadah wajib yang tertinggal adalah hal yang wajar.

Hal ini karena ibadah yang wajib seperti pengabdian seorang hamba kepada Allah SWT. Puasa Qadha harus dijalankan sesuai dengan aturan dan syarat-syarat yang berlaku seperti puasa pada umumnya.

Tidak ada aturan baku untuk melakukan penggantian utang puasa secara berurutan.


Pandangan Islam tentang Membayar Utang Puasa Ramadhan
Dalam Islam, membayar utang puasa Ramadhan merupakan suatu kewajiban yang sangat penting. Jika seorang Muslim tidak dapat melaksanakan puasa Ramadhan secara fisik karena alasan tertentu, seperti sakit atau memiliki keadaan lain yang tidak memungkinkan, maka ia harus membayar fidyah.
"Jika seorang Muslim sakit selama puasa Ramadhan, ia harus membayar fidyah," kata Nabi Muhammad saw. "Fidyah adalah sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan orang yang sakit selama bulan Ramadhan."
Berdasarkan hadits Nabi Muhammad saw, maka jika seorang Muslim sakit selama puasa Ramadhan, ia harus membayar fidyah sebesar 2,6 liter beras per hari. Jika ia tidak memiliki kemampuan untuk membayar beras, maka ia dapat membayar uang tunai sebesar 6,6 liter beras.
Selain itu, jika seorang Muslim memiliki keadaan lain yang tidak memungkinkannya melaksanakan puasa Ramad

Dalam karya Prof. Dr. Su'ad Ibrahim Shalih, para ulama memiliki perbedaan pendapat tentang bagaimana melaksanakan pembayaran puasa qadha secara terus-menerus.

Imam Hanafi berpendapat bahwa orang yang tidak melaksanakan qadha puasa Ramadhan tidak secara berurutan atau terpisah, maka ia dapat menggantinya dengan dalil yang berbunyi, “Dan barangsiapa di antara kalian sakit atau dalam perjalanan (maka berbuka) hendaknya ia mengganti sebanyak hari yang ditinggalkan.”

Baca Juga : Niat Puasa Qadha Ramadhan di Hari Senin-Kamis: Pengertian, Tata Cara, dan Hukumnya

Dalam kalimat tersebut dijelaskan bahwa diperbolehkan mengganti utang puasa Ramadhan secara terpisah dari tiga aspek berikut ini:

1. Allah SWT berfirman, "Hendaknya ia mengganti sebanyak hari yang ditinggalkan". Di sini Allah hanya mewajibkan mengganti puasa sesuai hari-hari yang ditinggalkan tanpa ditentukan teknis pelaksanaannya, sehingga ia boleh dilakukan secara terpisah atau berturut-turut.

Surat Al-Baqarah ayat 185 mengatakan, "Allah menginginkan kemudahan bagi kalian, bukan kesusahan". Ayat ini menunjukkan bahwa segala yang mudah bagi-Nya boleh dilakukan, namun menetapkan puasa qadha secara berurutan jelas menolak kemudahan dan menetapkan kesusahan, sehingga hal ini bertentangan dengan apa yang disebutkan dalam ayat tersebut.

3. Dalam ayat yang sama, Allah SWT mengatakan, “Agar kalian menyempurnakan hitungan”. Ini berarti agar umat Muslim dapat melengkapi hari-hari berpuasa, sehingga tidak boleh ada penafsiran lain selain ini karena itu berarti menambahkan hukum di atas ayat.

Sementara itu, ulama Syafi'i, ulama Maliki, ulama Hanabilah, dan Zaidiyah berpendapat bahwa menjalankan Qadha puasa secara berturut-turut lebih baik, tetapi jika dilakukan secara terpisah juga diperbolehkan.

Mereka berdalil dengan firman Allah SWT, "Maka hendaknya ia berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan" tanpa menetapkan secara terpisah atau berturut-turut.

Hari-hari yang dilarang untuk berpuasa menjelang Ramadhan

Berikut beberapa hari yang dilarang untuk mengganti puasa Qadha, menurut kebanyakan ulama:

1. Hari yang dilarang bagi suami kepada istri, kecuali dengan seizin suaminya

Nabi Muhammad SAW melarang seorang istri berpuasa jika suaminya sedang berada di rumah. Dalam arti lain, istri harus memperoleh izin suami sebelum berpuasa pada hari-hari tertentu.

2. Hari-hari di bulan Ramadhan

Tiga imam besar mazhab mengatakan bahwa tidak sah menggantikan kewajiban puasa Ramadhan pada hari-hari selama bulan Ramadhan.

3. Hari yang meragukan

Hari yang diragukan ini, apakah ini awal Ramadhan atau akhir Syawal, memang merupakan permasalahan yang menimbulkan keraguan. Hal ini didasarkan pada perkataan Ammar bin Yasir, “Barangsiapa berpuasa di hari yang diragukan, berarti telah berbuat durhaka terhadap Abu al-Qasim.” (Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

4. Hari Jumat secara khusus

Jumat dianggap sebagai hari perayaan mingguan bagi umat Islam, sehingga syariat melarang berpuasa di hari itu.

Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang dikatakan dalam hadits dari Jabir bin Abdullah, “Janganlah berpuasa pada hari Jumat, kecuali jika diikuti dengan berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Dua hari raya

Berpuasa pada dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha, adalah haram. "Ini adalah dua hari, di mana Nabi telah melarang berpuasa pada hari-hari tersebut, yaitu hari kalian berbuka dari puasa dan hari kalian makan hasil kurban." (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Hari tasyrik

Hari tasyrik adalah hari kedua, ketiga, dan keempat pada Idul Adha. Aisyah dan Ibnu Umar berkata, “Diberi kemudahan pada hari-hari tasyrik untuk berpuasa, kecuali bagi orang yang telah menerima hewan kurban di waktu haji.” (HR. Bukhari)

Pilihan Redaksi

  • Bacaan Doa Buka Puasa Qadha Ramadhan dan Cara Melakukannya
    1. "Bismillahi, wassalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu."
    2. "Alhamdullilahilladzi a'zam, wa shukrulillahilladzi a'zam, wa lailaha illallah, wa anna Muhammadarosulullah."
    3. "Allahumma ighfir li dhunbi kulluhu, ya Allahumma ighfir li dhunbi kulluhu, ya Allahumma ighfir li dzunubai kulluhu."
    4. "Allahumma ighfir li khatayaya kullaha, ya Allahumma ighfir li khatayaya kullaha, ya Allahumma ighfir li maa thalabtu thalabahu min khayri amali."
    5. "Astaghfirullahal-'azhim, astaghfirullahal-'azhim, astaghfirullahal-'azhim, a'uzu billahi min shaitanir-rajiimi, bism
  • Hari-Hari yang Dilarang untuk Melaksanakan Puasa di Bulan Ramadhan
  • Hukum Tidak Bayar Utang Puasa & Hari-hari yang Dapat Menggantinya

Baiklah, itulah penjelasan tentang membayar puasa Ramadhan secara berturut-turut. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Gratis!

Editor : Buliran News
Tag: