Buliran.com | Banyuwangi – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu Sekolah Dasar (SD) di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, menuai sorotan publik. Menu makanan yang diterima siswa dinilai jauh dari gambaran program peningkatan gizi yang selama ini disampaikan kepada masyarakat.
Berdasarkan dokumentasi yang diterima awak media, 20/02/2026, paket makanan yang dibagikan kepada siswa hanya berisi telur rebus, satu buah jambu, kacang tanah kemasan kecil, serta makanan berkuah dalam wadah plastik sederhana. Komposisi tersebut memunculkan pertanyaan serius terkait standar gizi serta efektivitas pengawasan dalam pelaksanaan program MBG di lapangan.
Program yang seharusnya berorientasi pada pemenuhan nutrisi anak sekolah justru dinilai memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan. Minimnya variasi menu, tidak adanya informasi kandungan gizi, serta pengemasan tanpa identitas penyedia makanan memperkuat kritik bahwa sistem kontrol kualitas belum berjalan optimal.
Sejumlah wali murid mengaku heran karena program berskala nasional tersebut tidak diiringi transparansi standar makanan yang diterima siswa.
“Programnya bagus, tapi kalau menu seperti ini tentu masyarakat bertanya apakah benar sudah melalui pengawasan yang layak,” ujar salah satu wali murid.
Sorotan publik juga mengarah pada dapur penyedia makanan yang memasok menu MBG di wilayah tersebut. Berdasarkan informasi yang berkembang di masyarakat, dapur penyedia tersebut disebut-sebut pernah mengalami persoalan terkait dugaan kasus keracunan makanan pada waktu sebelumnya hingga sempat menghentikan operasionalnya.Informasi tersebut semakin memperkuat tuntutan masyarakat agar pengawasan terhadap mitra penyedia makanan dilakukan secara ketat dan transparan, mengingat program MBG menyasar anak-anak usia sekolah yang rentan terhadap risiko kesehatan.
Pengamat sosial menilai persoalan utama bukan hanya pada menu yang dibagikan, tetapi pada lemahnya sistem pengawasan terhadap pihak penyedia makanan.
“Jika riwayat penyedia pernah menjadi perhatian publik, maka seharusnya pengawasan diperketat. Program gizi tidak boleh berjalan tanpa kontrol kualitas yang jelas,” ujarnya.
Situasi ini menimbulkan ironi di tengah harapan besar masyarakat terhadap program MBG sebagai upaya peningkatan kesehatan generasi muda. Ketika kualitas makanan justru memunculkan kekhawatiran, evaluasi menyeluruh dinilai menjadi langkah mendesak.
Editor : Buliran NewsSumber : Team