Scroll untuk baca artikel

AL-Qur'an : "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu"

AL-Qur'an : "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu"
AL-Qur'an : "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu"

Cara menerima keputusan Allah yang terasa tidak adil, tanpa kehilangan iman di tengah prosesnya :

Ibnu Qayyim al Jauziyah menuliskan beberapa cara pandang, yang dalam bahasanya sendiri disebut sebagai kacamata, untuk menghadapi takdir yang terasa berat atau menyakitkan. Ini bukan sekadar nasihat "sabar saja", tapi kerangka berpikir bertahap yang bisa benar benar dipraktikkan saat imanmu sedang diuji oleh kejadian yang terasa tidak adil.

Satu, kacamata tauhid. Ketika musibah datang, entah itu bencana, dizalimi orang lain, atau difitnah, pandanglah lewat kacamata ini terlebih dulu, dengan mengatakan pada diri sendiri, Allah telah memilihku untuk menjalani ujian ini, dan aku tidak akan memprotes takdir Nya. Ini bukan sikap pasrah tanpa perasaan, tapi keputusan sadar untuk tidak menghabiskan energi memprotes sesuatu yang sudah terjadi dan berada di luar kendalimu, supaya hatimu punya ruang untuk menerima dengan lapang, bukan terkunci dalam kemarahan yang tidak menyelesaikan apa apa.

Dua, kacamata keadilan. Ibnu Qayyim menegaskan, sebaik baik keadilan adalah keadilan dari Allah, dan setiap kejadian yang ditakdirkan pada seorang hamba pastilah yang paling adil dari sisi Nya. Ini diperkuat dengan hadits qudsi, "Wahai hamba Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri Ku, dan Aku jadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah saling menzalimi." (HR. Muslim) Kalau Allah sendiri mengharamkan sifat zalim bagi diri Nya, maka rasa "ini tidak adil" yang kau rasakan bukan berarti Allah benar benar berbuat tidak adil, tapi tanda bahwa keadilan Nya belum sepenuhnya bisa kau pahami dari sudut pandangmu yang terbatas.

Tiga, kacamata hikmah. Setiap ketetapan Allah pasti punya hikmah, baik kita ketahui sekarang atau tidak. Ibnu Qayyim menulis dalam Madarijus Salikin, "Sesungguhnya Allah tidaklah menetapkan untuk hamba Nya suatu ketetapan kecuali pasti baik untuknya, sama saja apakah keputusan tersebut membuat hamba itu sedih atau bahagia." Perhatikan kalimatnya, baik untukmu, bukan terasa baik untukmu. Dua hal itu berbeda. Sesuatu bisa benar benar baik untukmu, meski saat ini terasa sangat menyakitkan.

Empat, ini sejalan dengan prinsip yang sudah lebih dulu ditegaskan Al Qur'an, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al Baqarah ayat 216) Ayat ini sengaja mengingatkan keterbatasan penilaian manusia, supaya kita tidak terburu buru menyimpulkan sesuatu sebagai ketidakadilan, hanya karena belum mampu melihat gambaran penuhnya.

Lima, yang menohok dari semua ini, iman yang goyah di tengah takdir yang terasa tidak adil, biasanya bukan karena Allah benar benar berbuat zalim, tapi karena kita menuntut penjelasan penuh sebelum bersedia menerima, padahal penjelasan penuh itu memang bukan hak kita untuk diketahui sekarang, ia hak Allah untuk memperlihatkannya kapan Dia kehendaki, atau bahkan menyimpannya sampai di akhirat kelak.

Yang terasa tidak adil belum tentu benar benar tidak adil. Itu tanda kau belum melihat gambaran penuhnya, bukan tanda Allah berbuat zalim.

Editor : Buliran News
Sumber : SS
Bagikan

Berita Terkait
Terkini