Awal tahun 2020 harga migas merosot, disusul pandemi global, mengakibatkan ekonomi Norwegia mengalami kontraksi sebesar 2,5% tahun lalu. Ini menjadi penurunan tahunan terbesar dalam setengah abad dan mungkin sejak Perang Dunia II.
Namun pertumbuhan PDB sudah diproyeksikan untuk rebound pada tahun 2021 menjadi 3,9%. Lebih jauh lagi, ketika menghadapi masalah ekonomi apa pun yang mungkin menimpa mereka, orang Norwegia selalu dapat mengandalkan dana kekayaan negara senilai US$ 1,3 triliun, yang terbesar di dunia.7. Amerika Serikat (PDB per kapita: US$ 63.416)
Selama tahun 2020, Amerika Serikat terus berusaha naik ke deretan 10 besar setelah tertatih selama dua dekade terakhir. Namun orang-orang amerika yang berada di populasi teratas justru terpantau memiliki kekayaan yang meningkat. Mereka yang berpendapatan US$ 60.000 per tahun tetap bisa bekerja dari rumah, melihat investasi saham mereka yang nilainya terus tumbuh dan menerima stimulus lainnya.
Antara Maret 2020 dan April 2021, menurut Institute for Policy Studies, kekayaan kolektif 719 miliarder Amerika melonjak $1,62 triliun, atau 55%, dari US$ 2,95 triliun menjadi US$ 4,56 triliun. Mereka sekarang memiliki kekayaan empat kali lebih banyak dari sekitar 165 juta orang Amerika di lapisan bawah.8. Brunei Darussalam (PDB per kapita: US$ 62.371)
Kekayaannya Brunei Darussalam berasal dari cadangan minyak dan gas alam yang sangat besar di negara itu, diperkirakan sekitar US$ 28 miliar, lebih dari 50 kali lipat kekayaan Ratu Elizabeth dari Inggris. Tak heran Hassanal Bolkiah, Sultan Brunei hidup dengan mewah, memiliki 1.788 kamar, termasuk 257 kamar mandi, ruang perjamuan yang dapat menampung hingga 5.000 tamu, masjid untuk 1.500 orang, kandang ber-AC untuk 200 kuda polo, 5 kolam renang dan 18 lift. Terlepas dari kemewahan raja, dan daya beli per kapita di atas kertas lebih dari US$ 60.000, kondisi malnutrisi penduduk Brunei menjadi hal biasa.
Bekas koloni Inggris, wilayah administratif khusus China ini merupakan pintu gerbang ke daratan utama dan pusat keuangan utama Asia. Ekonomi Hong Kong dicirikan oleh pajak yang rendah dan tidak ada keuntungan modal, tidak ada tarif impor atau ekspor barang dan kepemilikan penuh bisnis mereka untuk orang asing tanpa persyaratan kewarganegaraan, tempat tinggal atau kewarganegaraan.
Akibatnya, pulau kecil yang hanya seluas 1.104 kilometer persegi ini sangat kaya secara keseluruhan. Hong Kong bersaing dengan New York untuk mendapatkan gelar sebagai kota dengan jumlah individu sangat kaya terbesar di dunia, sekitar 9.000 orang dengan kekayaan bersih US$ 30 juta atau lebih.Hebatnya, ketimpangan pendapatan yang melebar juga menjadi faktor penyebab kerusuhan politik yang mengguncang Hong Kong sejak 2019, mengganggu bisnis dan menakuti investor asing. Pandemi membuat ekonomi tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar 6,1%, penurunan paling tajam yang pernah tercatat.
10. Denmark (PDB per kapita: US$ 58.932)Kerajaan Denmark memiliki ekonomi berbasis layanan yang modern dan kompetitif secara internasional, yang juga berarti bahwa selama pandemi, keuangan rumah tangga dan publik tidak terlalu terpengaruh dibandingkan dengan negara-negara yang sangat bergantung pada kegiatan manufaktur, pariwisata, atau ekspor produk minyak bumi.
Sebanyak 5,8 juta warga Denmark menikmati pekerjaan dan upah yang tinggi, sistem jaminan sosial yang efisien, dan secara rutin menduduki peringkat teratas negara-negara paling bahagia di dunia .