“Saya mendesak Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan negara-negara lain yang mengambil keuntungan dari pembunuhan massal orang Indonesia yang tidak bersalah, anggota Partai Komunis Indonesia dan pengikut Sukarno, untuk mengakui tanggung jawab,” tuntutnya.Pemerintah Inggris selalu membantah terlibat dalam pembantaian 1965-1966 di Indonesia, tetapi dokumen yang dideklasifikasi menceritakan kisah yang berbeda.
Berbeda dengan Raja Belanda Willem-Alexander yang pada 2020, meminta maaf atas “kekerasan berlebihan” yang dilakukan di Indonesia selama pemerintahan kolonial negaranya, yang berakhir pada 1949.2. Media China, South China Morning Post (SCMP)
Media asal China ini menyebutkan bahwa keterlibatan Inggris dalam pembantaian 1965-1966 di Indonesia telah lama dicurigai.Sorotan pada peran Barat, khususnya Inggris dalam pembantaian 1965-1966 yang didukung negara, merenggut nyawa setidaknya ratusan ribu orang Indonesia, telah diintensifkan dengan deklasifikasi dokumen Inggris baru-baru ini.
Dalam dokumen tersebut mengungkapkan bahwa unit propaganda bayangan dari Kantor Kementarian Luar Negeri Inggris membantu menghasut untuk terjadinya pembantaian 1965-1966 di Indonesia.
Disebutkan bahwa campur tangan Inggris menawarkan metode dan motivasi dalam mendorong pembantaian 1965-1966, yang menyebabkan jatuhnya pemerintahan Presiden Soekarno yang berhaluan kiri dan melegitimasi pelantikan diktator berikutnya, Soeharto.SCMP yang berdiri sejak 1903 ini mengungkapkan bahwa campur tangan Inggris mengakibatkan ketakutan yang meluas atas pengaruh komunisme dan sentimen anti-China, meskipun tidak ada bukti bahwa China terlibat dalam gejolak periode tersebut.
Dokumen-dokumen deklasifikasi tersebut menyoroti bagaimana propaganda Perang Dingin Departemen Riset Informasi Kementerian Luar Negeri Inggris, mengambil keuntungan dari kudeta yang gagal di Indonesia oleh sekelompok perwira militer sayap kiri pada 30 September 1965.Dikatakan bahwa perwira kiri Indonesia membunuh 6 jenderal paling senior Angkatan Darat, diyakini bahwa mereka telah merencanakan untuk menggulingkan Soekarno dan melemahkan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang mendukung Soekarno.
Peristiwa itu dimainkan oleh kekuatan-kekuatan Barat, yaitu Amerika Serikat, Australia, dan Inggris. Negara-negara tersebut sudah dikenal memerangi komunisme selama Perang Dingin dan bersemangat menyingkirkan Soekarno yang berhaluan kiri.Unit propaganda Inggris memanfaatkan peristiwa 30 September 1965, dengan memicu desas-desus bahwa PKI berada di balik kudeta yang gagal.Inggris mencetak buletin yang seolah-olah ditulis oleh para patriot Indonesia yang mendesak rekan-rekan senegaranya untuk menghentikan “kanker komunis”.Klaim semacam itu membantu memicu pembantaian anti-komunis nasional besar-besaran yang didorong oleh tentara Indonesia, dipimpin oleh Jenderal Soeharto, yang menewaskan sedikitnya 500.000 orang dan mungkin sebenarnya bisa sampai 3 juta orang, menurut laporan SCMP.
Di antara para korban pembantaian 1965-1966 adalah masyarakat yang dianggap condong ke kiri, seperti orang-orang peranakan Tionghoa, buruh, pelajar, guru, seniman, dan petani.Peristiwa pembantaian 1965-1966 itu kemudian disebutkan oleh SCMP juga membuka jalan bagi Jenderal Soeharto untuk merebut kekuasaan negara dari Soekarno, dan memulai kediktatoran yang akan berlangsung lebih dari 30 tahun.
SCMP mengatakan bahwa tidak baru-baru ini saja muncul bukti keterlibatan Inggris dan negara Barat lainnya terkait pembantaian 1965-1966 di Indonesia.Pada 2016, Pengadilan Rakyat Internasional (IPT) untuk tahun 1965 di Den Haag merilis sebuah laporan yang menuduh AS, Inggris, dan Australia telah berperan dalam pembantaian di Indonesia.
Editor : Buliran News