Tantangan yang Masih Mengakar
Meski memiliki jumlah pemilih perempuan yang besar, jalan menuju representasi yang kuat masih dipenuhi hambatan. Budaya patriarki masih memandang kepemimpinan politik sebagai wilayah yang lebih cocok bagi laki-laki. Kandidat perempuan kerap menghadapi stereotip, beban ganda antara kehidupan publik dan domestik, hingga kekerasan berbasis gender di ruang digital. Di tingkat lokal, tantangan lain adalah keterbatasan kaderisasi perempuan dalam partai politik. Tidak sedikit perempuan yang baru muncul menjelang pemilu tanpa proses pembinaan yang memadai. Akibatnya, peluang mereka untuk terpilih menjadi lebih kecil.
Padahal, dengan 845 TPS yang tersebar di seluruh Tanah Datar, keberadaan perempuan sebagai penyelenggara pemilu, pengawas, saksi, maupun kandidat sebenarnya dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap proses demokrasi di tingkat akar rumput.
Demokrasi Dimulai dari Nagari
Keunikan Tanah Datar terletak pada keberadaan 75 nagari sebagai basis kehidupan masyarakat. Nagari bukan hanya unit administratif, tetapi juga ruang sosial tempat nilai-nilai demokrasi tumbuh melalui musyawarah. Apabila perempuan memperoleh ruang yang lebih besar dalam kepemimpinan nagari, organisasi kemasyarakatan, hingga lembaga adat, maka partisipasi politik tidak lagi berhenti pada hari pencoblosan. Demokrasi akan hidup dalam percakapan sehari-hari warga. Inilah makna sesungguhnya dari representasi: menghadirkan politik yang terasa dekat, bukan sekadar terlihat di baliho kampanye.
Saatnya Mengubah Cara PandangMeningkatkan partisipasi pemilih tidak cukup dilakukan dengan memasang spanduk ajakan memilih atau memperbanyak sosialisasi pemilu. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat merasa memiliki alasan untuk datang ke TPS. Dengan jumlah pemilih perempuan yang mencapai lebih dari separuh pemilih di Tanah Datar, sudah saatnya partai politik menjadikan kaderisasi perempuan sebagai investasi demokrasi, bukan sekadar memenuhi kuota pencalonan.
Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang hanya ramai pada hari pemungutan suara. Demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang memberi ruang setara bagi seluruh warga untuk hadir, dipercaya, dan mewakili. Ketika perempuan benar-benar memperoleh tempat dalam kepemimpinan politik, demokrasi tidak hanya menjadi lebih inklusif ia menjadi lebih hidup.
Editor : Buliran News