Scroll untuk baca artikel

Cegah Stunting Sejak Remaja, Dosen Al Insyirah Bekali 50 Anggota PMR SMA Negeri 5 Pekanbaru Jadi Edukator Sebaya

Cegah Stunting Sejak Remaja, Dosen Al Insyirah Bekali 50 Anggota PMR SMA Negeri 5 Pekanbaru Jadi Edukator Sebaya
Cegah Stunting Sejak Remaja, Dosen Al Insyirah Bekali 50 Anggota PMR SMA Negeri 5 Pekanbaru Jadi Edukator Sebaya

Di sisi lain, remaja mulai lebih bebas menentukan makanannya sendiri. Kebiasaan melewatkan sarapan, sering mengonsumsi jajanan rendah gizi, atau membatasi makan tanpa panduan yang tepat dapat membuat kebutuhan gizi tidak terpenuhi. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat memperbesar risiko kekurangan zat besi yang menjadi salah satu penyebab anemia.

Secara umum, pencegahan anemia dapat dimulai dari pola makan bergizi seimbang. Sumber zat besi antara lain daging merah, hati, ikan, telur, kacang-kacangan, dan sayuran berdaun hijau. Buah yang kaya vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi, sedangkan teh dan kopi sebaiknya tidak diminum bersamaan dengan waktu makan karena dapat menghambat penyerapannya. Remaja putri juga dianjurkan mengikuti program tablet tambah darah sesuai arahan tenaga kesehatan. Siswa yang mengalami keluhan berkepanjangan sebaiknya memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Pemilihan anggota PMR sebagai peserta sejalan dengan pendekatan peer educator yang diusung dalam kegiatan ini. Sebagai siswa yang aktif dalam kegiatan kepalangmerahan dan kesehatan di sekolah, mereka berada dalam posisi yang tepat untuk meneruskan informasi kepada teman sebaya.

Pesan kesehatan dari teman sendiri sering kali terasa lebih dekat dan mudah diterima karena disampaikan dengan bahasa dan pengalaman yang serupa. Dengan demikian, manfaat kegiatan diharapkan tidak berhenti pada 50 peserta yang hadir di aula, tetapi dapat menjangkau lebih banyak siswa melalui interaksi sehari-hari di sekolah.

Pendampingan dari Pembina PMR dan Koordinator UKS juga menunjukkan adanya dukungan sekolah dalam kegiatan ini. Keterlibatan kedua pihak tersebut penting karena PMR dan UKS merupakan wadah yang dekat dengan kegiatan kesehatan siswa di sekolah.

Usai penyuluhan, tim kembali mengukur tingkat pemahaman siswa untuk melihat perubahan pengetahuan setelah edukasi diberikan. Pengukuran sebelum dan sesudah kegiatan ini menjadi dasar evaluasi pelaksanaan program.

Sebagai penutup, anggota PMR menerima buku saku tentang peningkatan literasi gizi dan pencegahan anemia pada remaja. Buku saku ini dapat menjadi bahan belajar mandiri sekaligus panduan bagi siswa saat berbagi informasi dengan teman sebaya di lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan ini, kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian remaja terhadap gizi dan kesehatan diri. Dengan bekal yang diperoleh, anggota PMR SMA Negeri 5 Pekanbaru diharapkan dapat menjadi penggerak perilaku hidup sehat di sekolah, sekaligus turut berperan dalam upaya pencegahan stunting bagi generasi mendatang.(red/adri)

Editor : Redaktur Buliran
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini