KOTA BUKITTINGGI sebagai kota yang sudah berusia 240 tahun, tentunya meninggalkan banyak bangunan bersejarah yang telah lama menjadi ikon kota.Mulai dari bangunan cagar budaya berupa lembaga pendidikan, kantor pemerintahan, toko, jam gadang dan lain sebagainya.
Dengan beragam sejarah yang dimilikinya itu, pantaslah jika Koto Rang Agam itu dijadikan pusat pemerintahan baik oleh pemerintah Belanda, Jepang, PDRI, pemerintahan Sumatera dan juga pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
"Bukittinggi dengan berbagai catatan sejarah yang melingkupinya tentu menjadi destinasi pilihan untuk didatangi karena berudara sejuk, nyaman, asri dan modern sehingga jika seseorang berkunjung ke Sumatera Barat tak lengkap kiranya jika tak berkunjung ke Bukittinggi," kata perantauan sukses asal Bukittinggi, Desnataliza.
Perempuan ramah kelahiran Bukittinggi pada 25 Desember 1970 yang akrab disapa Uni Des ini, tak menampik jika menjadikan Bukittinggi menjadi lebih berkembang dan modern adalah sebuah hal yang harus dilakukan."Namun yang perlu diingat, jangan sampai modernisasi itu meninggalkan atau menghilangkan ikon atau ciri khas daerah itu sendiri," imbuh Ibu satu anak ini.
Bukittinggi yang asri, sejuk, nyaman, tertata rapi dan tentunya bersahabat dengan warganya, kata Uni Des tentu sangat diharapkan.
"Pak Novil adalah seorang pekerja keras dan gigih serta punya inovasi dalam mendesain Kota Bukittinggi menjadi lebih baik dari sebelumnya," ujar perempuan yang cukup getol berorganisasi ini.Jadi intinya kata Uni Des, majunya Novil Anoverta berawal dari rasa sedih dengan kondisi kota Bukittinggi saat ini.
"Sebagai anak rantau, saya rindu Kota Bukittinggi yang menyenangkan, sejuk dan bersahabat," ucapnya serius.Bukittinggi lanjutnya lebih cocok dibangun menjadi kota yang lebih bersahabat dengan alam karena keindahan alamnya. (teddy)
Editor : Buliran News