Oleh : Fitri Rahma SariMahasiswi STIKes Mercubaktijaya Padang
BANYAK orangtua belakangan kaget mengetahui tingginya kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. Dan lebih kaget lagi karena pelakunya seperti diberitakan media massa, adalah orang terdekat; ada oknum guru di pesantren, paman, dan juga bapak kandungnya sendiri. Tak terbayangkan dampak psikologis yang akan dialami si korban jiga yang mendapat penanganan oleh orang yang tepat.Untuk mencegah kekerasan seksual dan pemerkosaan terhadap anak tidak terjadi lagi, maka menjadi penting bagaimana perlunya pendidikan seks diajarkan kepada anak secara dini. Jika selama ini tabu bagi orangtua atau guru mengajarkan pendidikan seks kepada anak-anak, maka ke depan diharapkan cara berpikir demikian diubah. Orangtua harus memberikan pendidikan seks kepada anak secara dini.
Tanpa adanya pemahaman mengenai pendidikan seksual, anak akan sulit untuk melawan perlakuan menyimpang orang-orang terdekat dengan si anak. Sayangnya, masih banyak orang tua dan masyarakat yang merasa tabu dan apatis untuk membicarakan seksualitas kepada anak.Padahal, mengajarkan pendidikan seks kepada anak sejak dini bisa menjadi imun yang akan membantu anak untuk membentengi diri dari risiko kekerasan maupun pelecehan seksual di kemudian hari. Apalagi dengan semakin transparannya berbagai informasi yang bisa diakses lewat internet, sangat memungkinkan bagi sebagian besar anak dan remaja memanfaatkannya sebagai media penolong dalam memenuhi rasa keingintahuannya mengenai seks.
Berangkat dari pemikiran tersebut, Ikatan Alumni STIKes Mercubaktijaya Padang mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat tentang pentingnya pendidikan seks pada anak sejak dini, di Pondok Pesantren Perkampungan Minangkabau Panti Asuhan terpadu Al-Falah, Padang, pada 9 Desember 2021 lalu. Ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan Alumni STIKes Mercubaktijaya Padang.
Kegiatan atau gerakan ini bertujuan untuk mengedukasi para santri dalam pentingnya pendidikan seks pada anak sejak dini, karna yang kita ketahui sekarang sangat marak sekali berita yang beredar diluaran sana mengenai pelecehan seksual maupun kekeraan seksual di bawah umur.Kegiatan pengabdian pada masyarakat dengan tema pendidikan seks untuk anak usia dini ini dihadiri oleh santri-santri yang rentang usia 12-15 tahun yang bisa dikatakan remaja. Kegiatan ini juga memberikan informasi dan materi tentang mengenal diri sendiri, mengenai reproduksi dan juga menjelaskan cara menjaga diri agar terhindar dari pelecehan seksual maupun kekerasan seksual, yang dipaparkan oleh dosen dari STIKes Mercubaktijaya Padang yaitu Ns. Rizka Ausrianti, M. Kep, Ns. Rifka Andayani Putri, S. Kep, M. Kep, yang di pandu oleh Ns. Fitri Wahyuni, M. Kep., Sp. Kep.An.
Tak hanya itu, beberapa dosen dan mahasiswa dari prodi S1 Keperawatan seperti Fitri Rahma Sari, Selvia Nabila, dan Kajol Bharira pun turut hadir di kegiatan tersebut. Materi yang disampaikan bertujuan agar santri-santri yang masih di bawah umur tidak keliru mengenai pendidikan seks dan terhindar dari kekerasan atau pelecahan seksual.Tidak hanya memberikan materi tentang pendidikan seks sejak dini, tim pengabdian pada masyarakat dari Ikatan Alumni STIKes Mercubaktijaya Padang juga memberikan donasi berupa sembako kepada Pondok Pesantren Al-Falah.Rizka Ausrianti mengatakan, pendidikan seks bisa ditanamkan sejak dini saat anak mulai mengajukan pertanyaan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas. Dari hal tersebut, orang tua mulai menanamkan pendidikan seks mulai dari tingkat yang paling dasar seperti pengenalan organ tubuh dan fungsinya.
"Sejak kecil anak-anak harus diberikan edukasi seksualitas, kenapa tidak boleh atau dilarang melakukan ini dan itu, apa yang harus dilakukan dan dijaga, supaya mereka punya integritas diri, tahu ada bagian penting dari tubuhnya yang tidakboleh dipegang orang lain atau diekspos," papar Rizka. "Agar anak tumbuh menjadi generasi muda yang berkualitas, ada baiknya orang tua memberikan informasi seputar seks sejak dini,” tuturnya.
Anak-anak yang belakangan menggunakan media internet dan/atau telepon genggam saat belajar daring pada masa pandemi Covid-19, harus tetap dalam pengawasan orangtua. Kadang karena kesibukan orangtua kerja, tak ada yang pengawasi anak. Dunia internet terbuka diakses oleh siapa saja. Jika yang diakses dan disalahpami soal pendidikan seks, anak-anak bisa menjadi korban danatau pelaku kekerasan seksual.Pendidikan seks pada anak-anak sejak dini bisa menjadi pintu gerbang bagi anak-anak untuk lebih tahu bagaimana berprilaku dan berperan sesuai dengan gendernya. Selain itu, mereka juga akan lebih memahami prilaku seksual yang seharusnya dilakukan, memahami kesehatan dan perkembangan reproduksi, hubungan laki - laki dan perempuan serta batasan-batasan yang tidak boleh diabaikan.
"Kami menghimbau orang tua, mari kita mulai menjaga anak, memberikan edukasi seksualitas kepada anak, tidak hanya orang tua tapi orang-orang di sekitar juga berkewajiban untuk melindungi anak-anak,” jelas Rizka.Rifka Handayani Putri menambahkan, pendidikan seks di Indonesia masih dianggap menjadi satu hal yang tabu untuk diberikan kepada anak-anak dan remaja. Orangtua dan orang dewasa merasa risih dan enggan saat anak-anak dan remaja menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan seks dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan atau mengatakan pada mereka jika mereka akan tahu dengan sendirinya saat dewasa.
Editor : Buliran News