Scroll untuk baca artikel

Akal (tidak) Sehat Ade Armando

Akal (tidak) Sehat Ade Armando
Akal (tidak) Sehat Ade Armando

Dosen ilmu komunikasi FISIP UI itu menghakimi orang Minang sebagai orang yang terbelakang. Menurut dia, keterbelakangan orang Minang disebabkan oleh kesalahan cara orang Minang beragama.‘Cara beragama Islam di tanah minang saat ini, itu mengabaikan akal sehat’, begitu simpulan Ade pada bagian akhir videonya.

Di dalam video berdurasi 14 menit dan 39 detik itu, Ade juga menyebut-nyebut tiga hal: pro-syariah, mujahidin dan 212. Itu disebutnya ketika menjelaskan latar belakang Irfianda Abidin yang ‘membuangnya sepanjang adat’.Ketiga hal yang disebutnya itu semakin menegaskan cara pandang dan posisi berdirinya dalam memandang orang Minang secara umum. Seolah-seolah orang Minang yang menyuarakan hal-hal yang berbau Islam (pro-syariah, mujahiddin dan 212) adalah keliru. Padahal, kalau dia berakal sehat dan tidak terbelakang, menyuarakan nilai-nilai Islam adalah bagian dari praktik kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi.

–00–Ade, masih dalam video, memang tidak main pukul rata terkait pernyataannya tentang keterbelakangan orang Minang. Makanya dia menyebut beberapa nama orang Minang yang menurutnya masih berpikiran progresif yang terbuka.

Dari nama-nama yang disebutkannya, sebagian besarnya adalah orang-orang Minang yang pemikiran, arah politik dan posisi berdiri yang persis sama dengan dirinya.Dengan begitu, untuk memahami atau menangkap poin penting pola pikir dan perilaku Ade selama ini, sebetulnya, tidak rumit-rumit amat. Ade berani menghukum orang Minang sebagai suku bangsa yang terbelakang dan/atau suku bangsa yang mengabaikan akal sehat dalam beragama disebabkan pemikiran orang Minang pada umumnya tidak seragam dengan lingkar tempurung kepala yang dimilikinya.

Dengan kata lain, boleh juga lebih disederhanakan bahwa menurut Ade, orang atau suku bangsa yang maju adalah mereka yang isi kepalanya serupa dengan yang dipunyainya. Di luar itu, terbelakang. Apalagi orang atau suku bangsa yang punya preferensi politik yang tidak sama dengannya. Begitu benarlah tidak sehat akalnya.Inilah ke(geli)an saya yang kedua; Ade menuding orang Minang terbelakang dan tidak berakal sehat dalam beragama karena hanya tempat berdirinya tidak sama dengan dirinya dan kawan-kawan sekufunya.

Padahal, menurut paham sebagian besar orang Minang, justru orang yang tidak berakal sehat adalah orang yang mau merendah-rendahkan dirinya kepada pemegang kekuasaan dunia hanya sekadar untuk mendapatkan bagian.–00–

Ade mungkin lupa dengan fakta orang Minang sebagai suku bangsa yang keras hati. Atau bisa jadi tidak tahu. Bagi orang Minang, mengekspresikan ketidaksukaan secara terbuka tas ketidakberesan yang dilihatnya adalah hal biasa. PRRI cukuplah sebagai salah satu bukti betapa kerasnya hati orang Minang.Presiden Soekarno yang pada waktu itu dilihatnya sudah mulai melenceng diingatkan secara terbuka. Tanpa rasa takut. Padahal kala itu, sang Presiden sedang kuat-kuatnya. Perang saudara pun pecah.

Bagi orang Minang yang sebenar Minang, berbeda pendapat adalah hal biasa saja. Apalagi hanya sekadar berbeda pilihan politik.Orang Minang sudah terlatih berbeda pendapat sejak di lapau-lapau kampung. Dari pagi bisa sampai petang.

Setajam apapun beda pendapatnya, orang Minang tetap menjaga kepala mereka tetap dingin. Hanya ada dua yang tidak boleh ditudingkan kepada lawan yang pendapatnya berbeda. Yaitu menyatakannya kafir dan tak beradat. Selain dari itu silakan saja.Ini mungkin implementasi sosial dari terminologi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Sejahat-jahatnya orang Minang, dia pasti marah tak alang kepalang bila dirinya disebut tak beragama (Islam) dan tak beradat. Salat dan puasa boleh bolong-bolong, tapi ghirah sosial mereka akan memuncak bila agama mereka disingggung-singgung.

Bagi orang Minang yang disebut agama itu adalah Islam. Tidak ada opsi lain. Makanya, sikap Gubernur Irwan Prayitno menyuarakan kegelisahan warganya atas beredarnya aplikasi Injil berbahasa Minang di playstore dapat dipahami.Tapi jangan salah paham. Itu bukan berarti orang Minang tidak menerima kehadiran pemeluk agama lain di kampung mereka. Sependek pengetahuan saya, orang Minang tidak pernah membuat orang lain yang berbeda keimanan tidak nyaman berada di ranah Minang. Pasalnya, bagi orang Minang, pesan Kitabullah ‘Bagimu Agamamu Bagiku Agamaku’, adalah puncak tertinggi dari toleransi beragama.

Editor : Buliran News
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini