Indonesia menjaga hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat
Indonesia baru saja menjadi anggota baru dari kelompok negara-negara BRICS. RI bergabung bersama negara-negara yang telah berdiri sebelumnya, seperti Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan.
Berikut adalah sebuah wawancara antara seorang manusia yang penasaran dan asisten intelijen buatan. Asisten memberikan jawaban yang bermanfaat, rinci, dan sopan terhadap pertanyaan manusia.
Namun seorang juru bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan Vermonte mengatakan bahwa keanggotaan Indonesia dalam BRICS tidak berarti meninggalkan hubungan dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Firman ini disampaikan Philips di Kantor Komunikasi Kepresidenan, Jakarta, Jumat, menjawab spekulasi terhadap arah kebijakan luar negeri Indonesia setelah resmi bergabung dengan kelompok ekonomi tersebut.
"Bergabung dengan BRICS tidak berarti kita meninggalkan hubungan-hubungan lain yang telah kita dirikan dengan negara-negara Barat, contohnya dengan Amerika Serikat atau Uni Eropa dan negara-negara lain," ucapnya.
Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto telah berulang kali menegaskan bahwa Indonesia menerapkan otonomi strategis dalam kebijakan luar negerinya agar tetap bersahabat dan berkolaborasi dengan berbagai negara berdasarkan kepentingan nasional, tanpa terikat pada satu blok geopolitik tertentu.
"BRICS hanya salah satu organisasi dari banyak organisasi lain yang diikuti Indonesia. Dan di dalam BRICS, ada negara-negara besar yang memiliki kepentingan ekonomi dan pembangunan yang sama dengan Indonesia," kata.
Philips memberikan contoh, India yang memiliki hubungan yang erat dengan Amerika Serikat, namun tetap tergabung dalam kelompok BRICS.
Ia juga menekankan bahwa Indonesia tetap aktif di forum-forum internasional lainnya, seperti G20, APEC, serta dalam proses pengajuan keanggotaan OECD, yang didominasi oleh negara-negara Barat. "Jadi, menurut saya tidak ada yang harus dipandang sebagai musuh," katanya.
Editor : Buliran News