Salh satu kutipan tulisan Kartini yang mencerminkan pemikiran ini adalah surat kepada Stella, 25 Mei 1899: “Kami berkeinginan mendidik anak-anak perempuan, bukan menjadikan mereka wanita yang hanya tahu bersolek dan menjahit semata, tetapi wanita yang berpikir, berpengetahuan, dan berguna bagi masyarakat.”
Dalam kutipan tersebut, Kartini menunjukkan bahwa pendidikan harus bersifat menyeluruh. Bagi Kartini, perempuan tidak boleh dibatasi hanya dengan keterampilan domestik, namun juga perlu diberi akses untuk berpikir luas, berpengetahuan, dan memiliki keahlian yang dapat memberdayakan mereka di masyarakat. Hal ini mencerminkan konsep life skill dalam arti modern, yaitu keterampilan yang mencakup kemampuan berpikir kritis, mengambil keputusan, berkomunikasi efektif, dan mengelola diri secara emosional maupun sosial.
Pemikiran Kartini ini menunjukkan bahwa ia telah jauh melampaui zamannya. Ia memahami bahwa untuk membangun bangsa yang kuat, diperlukan generasi muda yang tangguh secara mental dan cakap secara keterampilan. Ia bahkan mengkritisi sistem pendidikan kolonial yang hanya berorientasi pada pembentukan kelas elit, bukan pemberdayaan seluruh rakyat, terutama kaum perempuan.
Pemikiran itu disampaikan Kartini dalam suratnya kepada Abendanon, 1 Agustus 1901:“Kami tidak ingin kaum perempuan hanya menjadi perhiasan rumah tangga. Mereka harus mampu berdiri sendiri, membantu dirinya sendiri, dan bahkan membantu orang lain.”Dari pernyataan ini, kita bisa melihat bahwa Kartini sangat mendukung pendidikan praktis yang mengajarkan kemandirian. Dalam konteks hari ini, pendidikan seperti itu bisa diartikan sebagai pelatihan keterampilan seperti kewirausahaan, teknologi, komunikasi interpersonal, dan manajemen waktu. Semuanya merupakan bagian dari life skill yang sangat dibutuhkan oleh generasi muda di era digital ini.