Scroll untuk baca artikel

Hitam Putih Kontestasi Politik & Pemerintahan di Kabupaten Solok

Hitam Putih Kontestasi Politik & Pemerintahan di Kabupaten Solok
Hitam Putih Kontestasi Politik & Pemerintahan di Kabupaten Solok

Bahkan dengan Syamsu Rahim (Bupati Solok periode 2010-2015) yang ikut mendukung Asda-Pandu di Pilkada 2020. Dari mulut Syamsu rahim muncul sebuah kata populer; "Bupati bukan raja, jangan sampai terjadi chaos di Kabupaten Solok".Dengan Bupati Solok periode 1995-2005, Gubernur Sumbar 2005-2009 dan Menteri Dalam Negeri 2009-2014, Dr. Gamawan Fauzi, SH, MM, hubungan Epyardi Asda juga tidak bisa dikatakan "baik-baik saja".

Bahkan, pada 29 Oktober lalu, Bupati Solok, Sumbar, Epyardi Asda, M.Mar, menyatakan banyak dajjal di Kabupaten Solok, yang menghalangi pemerintahannya mengabdi untuk masyarakat. Hal itu dikatakan Epyardi dalam pidatonya usai melantik pejabat eselon III dan eselon IV Pemda Kabupaten Solok di bekas Kompleks Kantor Bupati Solok, Nagari Kotobaru, Kecamatan Kubung, Jumat (29/10/2021).Sikap dan gaya nyeleneh Sang Kapten, membuat olengngnya biduk kapal besar bernama Kabupaten Solok dari adem ayem menjadi panas bak bara. Namun seperti pepatah "anjing menggonggong kafilah tetap berlalu", Ya Epyardi tetap saja bertingkah bak raja kecil di kampung halamannya.

Rapor merah Sang Bupati tak saja berhasil menaikkan tensi Kabupaten Solok, namun juga membuat panas kuping para perantauan Nagari Bareh tersebut. Epyardi sempat mengamuk di Puskesmas Tanjung Bingkung dan menghardik serta marah-marah ke pegawai Puskesmas, karena menilai pelayanan kesehatan di Puskesmas itu sangat buruk.Tak sekadar marah saja, "orang orang Bupati" bahkan mengunggah "drama" tersebut dalam bentuk video di akun youtube tvSUMBAR, dengan alamat: https://youtu.be/l0IUAvwOJTk. Awalnya, video itu berjudul: "Pelayanan Kesehatan Amburadul, Bupati Solok Mengamuk di Puskesmas Tanjung Bingkung", kemudian diubah menjadi: "Bupati Solok Mengamuk karna Pelayanan Kesehatan Amburadul di Puskesmas Tanjung Bingkung".

Dalam video berdurasi 29 menit 5 detik itu, dimulai dengan cuplikan-cuplikan video sekitar tiga menit, yang menunjukkan begitu kesalnya Epyardi Asda dengan kinerja tenaga medis di Puskesmas Tanjung Bingkung. Video kemudian beralih dengan "pembukaan" oleh Wali Nagari Tanjung Bingkung Mardanus, yang menyebutkan inspeksi mendadak (Sidak) Epyardi Asda berawal dari adanya laporan dari warga yang mengalami kecelakaan saat sore hari, beberapa waktu sebelumnya di Jalan Lintas Solok-Bukittinggi, depan Puskesmas Tanjung Bingkung. Disebutkannya, korban itu tidak dilayani oleh tenaga medis Puskesmas, karena Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas sudah tutup.Usai memgamuk, di depan UGD Puskesmas, Epyardi kemudian membuat rekaman pernyataan dan mengaku sangat kesal karena buruknya pelayanan abdi negara termasuk pelayanan instansi kepada masyarakat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Solok. Apalagi dengan hasil pemeriksaan Ombudsman baru-baru ini.

Nama Epyardi makin tokcer tak hanya di pentas Sumatera Barat, namun juga di pentas nasional setelah dia dilaporkan ketua DPRD Kabupaten Solok ke Polda Sumbar dan KPK RI serta Ombudsman. Tak hanya itu, rekanan yang tak dibayar hasil kerjanya pun melaporkan hal serupa ke KPK RI.Ya, biduk besar Kabupaten Solok makin hari makin menjadi manis untuk diberitakan. Sayangnya, khabar tersebut tak berupa khabar yang baik dari yang baik, namun khabar yang miris di tengah prestasi yang juga miris. Semoga ke depan hal ini tak terus terjadi. ***

-----------------------------------------------

Penulis : Teddy G Chaniago, SHPerantau Kabupaten Solok Tinggal di Jakarta

Editor : Buliran News
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini