Status ekonomi, status kesehatan dan status pendidikan yang rendah saling terkait antara satu dengan yang lain secara sangat erat. Status ekonomi yang rendah, secara langsung dan tidak langsung berpengaruh terhadap status gizi, sementara status gizi buruk dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar anak yang rendah.Hal tersebut memerlukan upaya perbaikan menyeluruh, berkesinambungan dan sinergi. Selain itu, juga diperlukan dukungan dari masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, badan swata dan pemerintah. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengungkapkan upaya penanggulangan masalah kekurangan gizi yang penting dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok usia sesuai siklus kehidu- pannya.
Oleh sebab itu, investasi gizi berperan penting dalam memutus lingkaran kemiskinan dan gizi kurang sebagai upaya peningkatan SDM.Tahukah pembaca bahwa masalah gizi buruk di kalangan kelompok balita masih menjadi perhatian utama di berbagai negara, khususnya Indonesia.
Dilansir dari laman who.int, sekitar 45 persen kematian pada anak-anak di bawah usia 5 tahun yaitu terkait dengan gizi buruk.Melansir situs Unicef Indonesia, ada 3 masalah gizi di Indonesia yang mengancam masa depan jutaan anak dan remaja. Pertama, stunting (bertubuh pedek). Stunting disebabkan karena malnutrisi atau kekurangan gizi kronis dan penyakit berulang selama kanak-kanak. Anak yang mengalami stunting paling umum ditandai dengan tubuh yang lebih pendek dari anak kebanyakan seusianya.
Tak hanya berdampak pada kesehatan fisik, stunting juga membatasi kemampuan kognitif anak secara permanen dan menyebabkan kerusakan yang lama.Kedua, wasting (bertubuh kurus). Masalah kekurangan gizi lain di Indonesia adalah tingginya angka wasting pada anak-anak. Kondisi wasting ditandai dengan tubuh anak yang sangat kurus. Wasting adalah masalah kekurangan gizi akut yang disebabkan oleh penurunan berat badan secara drastis atau kegagalan dalam proses menaikkan berat badan.
Anak-anak yang mengalami masalah gizi wasting atau pun kegemukan memiliki risiko kematian yang tinggi.Ketiga, kasus obesitas pada orang dewasa. Tak hanya anak-anak, orang dewasa di Indonesia juga punya masalah gizi yakni kegemukan atau obesitas. Unicef menyebut angka kegemukan atau obesitas di Indonesia sudah naik hampir 2 kali lipat selama 15 tahun terakhir. Masalah gizi yang satu ini meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit berbahaya seperti diabetes dan juga penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.
Gizi buruk merupakan salah satu hal yang menjadi masalah global, termasuk di Indonesia. Pemenuhan gizi yang belum tercukupi baik sejak dalam kandungan hingga bayi lahir dapat menjadi pemicunya. Gizi buruk dapat berupa berat badan rendah terkait tinggi badan, serta tumbuh kembang yang tidak sesuai dengan yang seharusnya.Salah satu bentuk luas dari gizi buruk ialah stunting. Sunting adalah kondisi yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Kondisi tersebut menyebabkan anak tumbuh lebih pendek dari anak normal seusianya. Selain itu, anak dengan stunting seringkali juga memiliki keterlambatan pola pikir dan diyakini sebagai akibat tidak terpenuhinya zat gizi.Karena sedemikian bahayanya hipertensi, asam urat, dan kurang gizi, dosen-dosen Program Studi S-1 Keperawatan dan Profesi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Mercubaktijaya, Padang, melakukan kegiatan pengabdian pada masyarakat di Kelurahan Pasia Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, minggu kedua Desember 2021 selama tiga hari.Kegiatan pengabdian masyarakat yang telah dilakukan berupa skrining kesehatan dan pemberdayaan masyarakat untuk memanfaatkan terapi komplementer dalam lingkup keperawatan, dengan sasaran kelompok agregat dewasa, lansia, ibu dengan balita dan anak usia sekolah.
Rincian kegiatan yang telah dilakukan meliputi: Pertama, Keilmuan Keperawatan Medikal Bedah: Skrining tekanan darah, edukasi pengendalian tekanan darah pada penderita Hipertensi dan melatih akupresur awam untuk mengendalikan tekanan darah.Pengabdian masyarakat yang melibatkan 25 orang ini, sebagai tindakan preventif permasalahan hipertensi yang muncul karena kurangnya kesadaran masyarakat sekitar terhadap makanan sehat rendah garam. Selain itu, diperkenalkan juga terapi komplementer yang bisa digunakan untuk mengontrol tekanan darah penderita hipertensi sebagai pendamping terapi medis.
Kedua, Keilmuan Keperawatan Gerontik : Pemeriksaan asam urat dan Otago exercise untuk keseimbangan dan mengurangi risiko jatuh pada lansia. Kegiatan ini dihadiri oleh 32 orang lansia. Inovasi terapi komplementer untuk lansia berupa Otago exercise sangat dibutuhkan lansia untuk preventif kejadian jatuh.Ketiga, Keilmuan Keperawatan Anak & Maternitas : Edukasi Masyarakat Khususnya Ibu Balita dalam Mencegah terjadinya Masalah Gizi Pada Anak dengan Pendekatan Terapi Tuina Massage. Kegiatan ini diikuti oleh 16 orang ibu dengan balita. Permasalahan gizi pada anak masih menjadi masalah utama yang harus segera diatasi.
Terapi komplementer yang diperkenalkan pada pengabdian masyarakat ini adalah terapi pijat Tui Na yang masih baru dan belum dikenal masyarakat pada umumnya. Terapi ini merupakan terapi komplementer untuk meningkatkan nafsu makan anak dan meningkatkan gizi anak,Keempat, Keilmuan Keperawatan Jiwa : Edukasi asertiveness dalam mereduksi bullying dan membangun karakter anak sejak dini pada kelompok anak usia sekolah di SDN 31 Pasir Kandang Kel. Pasir nan tigo, Kec. Koto Tangah, Kota Padang. Kegiatan ini diikuti peserta 20 orang anak. Permasalahan bullying sering terjadi usia sekolah seperti mengancam dan memukul jika keinginan tidak terpenuhi. Pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan mengajarkan anak cara berkomunikasi yang baik berupa terapi komplementer asertiveness.
Editor : Buliran News