“Karena ini baru pertama kali untuk SD menggunakan sistem online, jadi masih ada kendala. Edukasi ke masyarakat harus lebih ditingkatkan, terutama bagi orang tua yang anaknya belum pernah mengenyam pendidikan TK,” jelasnya.
Selain itu, faktor geografis juga menjadi salah satu penyebab. Sekolah-sekolah yang berada di luar wilayah pusat kota atau kecamatan cenderung lebih sepi peminat dibanding sekolah-sekolah favorit yang cepat penuh meski jaraknya relatif jauh.
“Sekolah-sekolah di luar kota biasanya kekurangan murid. Sementara sekolah favorit di pusat kota justru cepat sekali terpenuhi, bahkan sebelum jarak maksimal 7 kilometer dari domisili terpenuhi,” tambah Haris.
Dindikbud memberikan solusi bagi sekolah yang belum terpenuhi kuotanya. Sekolah-sekolah tersebut diperbolehkan membuka kembali penerimaan peserta didik baru secara luring atau offline. Namun, proses ini tetap harus diawasi dan dilaporkan secara resmi ke dinas.“Kami minta pihak sekolah yang belum terpenuhi kuotanya untuk melapor. Nantinya kami akan izinkan pembukaan pendaftaran secara offline, agar bisa memenuhi daya tampung dan menjamin akses pendidikan tetap terbuka bagi masyarakat,” tegas Haris.
Editor : Redaktur Buliran