Scroll untuk baca artikel

Menjemput Fajar Nagari 7 Oktober, Menjaga Marwah Pilwana Solok Selatan. Oleh: Eka Puji Lestari, M.Pd (Dosen Widyaswara Indonesia)

Menjemput Fajar Nagari 7 Oktober, Menjaga Marwah Pilwana Solok Selatan. Oleh: Eka Puji Lestari, M.Pd (Dosen Widyaswara Indonesia)
Menjemput Fajar Nagari 7 Oktober, Menjaga Marwah Pilwana Solok Selatan. Oleh: Eka Puji Lestari, M.Pd (Dosen Widyaswara Indonesia)

Minangkabau mengenal falsafah Tungku Tigo Sajarangan. Sebagaimana tungku berkaki tiga yang menopang periuk agar tetap seimbang, kehidupan nagari juga berdiri di atas tiga unsur utama: Niniak Mamak, Alim Ulama, dan Cadiak Pandai. Ketiganya bukan simbol seremonial.

Niniak Mamak adalah pemegang amanah kaum. Mereka menjaga adat, menyelesaikan perselisihan, dan memastikan hubungan antar keluarga tetap utuh. Dalam suasana Pilwana yang sarat perbedaan pilihan, suara seorang penghulu sering kali lebih menenangkan daripada ribuan unggahan di media sosial.

Seorang Niniak Mamak yang bijak akan mengingatkan bahwa pilihan politik boleh berbeda, tetapi hubungan sebagai anak kemenakan tidak boleh retak.

Alim Ulama menghadirkan kesejukan melalui nilai agama. Mereka mengingatkan bahwa fitnah, kebencian, dan permusuhan bukanlah jalan yang dibenarkan. Demokrasi harus menjadi ruang ikhtiar, bukan ruang permusuhan.

Sementara Cadiak Pandai memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan pencerahan. Di tengah derasnya arus informasi, mereka menjadi penuntun agar masyarakat tidak mudah terjebak oleh kabar yang belum tentu benar.

Apabila tiga unsur ini menjalankan perannya secara utuh, Pilwana tidak hanya menghasilkan pemimpin, tetapi juga memperkuat kohesi sosial nagari.

Bundo Kanduang: Limpapeh Rumah Nan Gadang

Ada satu kekuatan lain yang sering bekerja tanpa banyak sorotan, yakni Bundo Kanduang.

Dalam adat Minangkabau, Bundo Kanduang disebut sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang—tiang penyangga rumah besar yang menjaga keseimbangan keluarga. Mereka bukan sekadar ibu dalam pengertian biologis, tetapi penjaga martabat kaum, pendidik generasi, sekaligus perekat hubungan kekeluargaan. Menjelang Pilwana, peran itu menjadi semakin penting. Tidak sedikit perbedaan pilihan yang berawal dari ruang keluarga. Suami berbeda pilihan dengan istri, kakak berbeda dengan adik, mamak berbeda dengan kemenakan. Dalam situasi seperti itu, kelembutan seorang Bundo Kanduang menjadi penawar yang mengingatkan bahwa politik hanya berlangsung sesaat, sedangkan persaudaraan harus tetap abadi.

Dari rumah pula pendidikan politik pertama sesungguhnya dimulai. Anak-anak belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap perbedaan melalui teladan orang tua mereka.

Editor : Buliran News
Bagikan

Berita Terkait
Terkini