Scroll untuk baca artikel

Menjemput Fajar Nagari 7 Oktober, Menjaga Marwah Pilwana Solok Selatan. Oleh: Eka Puji Lestari, M.Pd (Dosen Widyaswara Indonesia)

Menjemput Fajar Nagari 7 Oktober, Menjaga Marwah Pilwana Solok Selatan. Oleh: Eka Puji Lestari, M.Pd (Dosen Widyaswara Indonesia)
Menjemput Fajar Nagari 7 Oktober, Menjaga Marwah Pilwana Solok Selatan. Oleh: Eka Puji Lestari, M.Pd (Dosen Widyaswara Indonesia)

Parik Paga Nagari: Benteng Persatuan

Orang tua dahulu mengenal istilah Parik Paga Nagari.

Parik memang berarti parit, paga berarti pagar. Tetapi maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar benteng fisik. Ia adalah sistem pertahanan sosial yang menjaga nagari dari segala hal yang dapat merusak persatuan masyarakat.

Hari ini ancaman itu tidak selalu datang dalam bentuk pertikaian terbuka. Ia bisa hadir melalui kabar bohong, ujaran kebencian, politik uang, maupun provokasi yang menyebar cepat melalui telepon genggam. Karena itu, Parik Paga Nagari harus dimaknai sebagai tanggung jawab Bersama.

Pemuda menjaga ruang digital tetap sehat.

Tokoh adat menjaga kesejukan musyawarah.

Tokoh agama menjaga akhlak masyarakat.

Penyelenggara Pilwana menjaga integritas proses demokrasi. Dan seluruh warga menjaga agar tidak ada perbedaan pilihan yang berubah menjadi permusuhan berkepanjangan.

Marwah Nagari Lebih Tinggi dari pada Kemenangan

Kontestasi selalu melahirkan dua kemungkinan: ada yang menang dan ada yang belum berhasil. Tetapi dalam falsafah Minangkabau, marwah nagari selalu lebih tinggi daripada kepentingan seseorang. Kampanye hendaknya menjadi ruang adu gagasan, bukan adu caci. Rekam jejak lebih penting daripada janji kosong. Integritas lebih berharga daripada popularitas sesaat. Sebab setelah kotak suara ditutup, masyarakat tetap akan bertemu di surau, di sawah, di pasar, di pesta adat, dan di pemakaman kaum. Tidak ada kemenangan politik yang layak dibayar dengan putusnya silaturahmi.

Editor : Buliran News
Bagikan

Berita Terkait
Terkini