Nofil tercatat lulus dari SD 10 Benteng tahun 1984. Lalu melanjutkan ke SMP 1 Bukittinggi yang diselesaikan tahun 1987.Setamat SMP, Nofil pun diterima sebagai murid di SMA 1 Bukittinggi yang berhasil diselesaikannya tahun 1990.
Sambil tersenyum, Nofil mengingat sebuah perjalanan hidupnya yang sangat berkesan, dimana Nofil ditantang berkelahi oleh temannya yang bernama Avicenna.[caption id="attachment_24202" align="alignnone" width="250"]
DIMANA SAJA - Seorang Ir Nofil Anoverta selalu dekat dengan masyarakat, dimana saja tokoh muda ini bisa selalu dengan mudah ditemui.[/caption]
"Namanya anak-anak, tantangan itu saya terima dan ternyata saya bisa mengalahkannya. Padahal beberapa tahun kemudian, Avicenna dikenal sebagai pesilat tangguh Satria Muda," ucapnya.Menurut cerita Avicenna sendiri, karena kalah berkelahi dengan Nofil-lah yang kemudian memotivasi dirinya untuk giat berlatih silat dengan Pendekar Silek Harimau, Uda Edwel Yusri dan Pendekar Uda Kobar.
"Justru setelah perkelahian itu, saya dan Avicenna kemudian menjadi sahabat karib bahkan hingga saat ini," tambahnya.Nofil yang mewarisi kepintaran, kegagahan dan pergaulan yang luas, sedari kecil memang sudah terbiasa memperjuangkan cita citanya, melakukan langkah yang tidak terpikirkan oleh yang lain.
Karena bercita cita menjadi seorang Insinyur, Nofil belajar sangat tekun bahkan mendapat bimbingan langsung dari Pak Syarfi, guru Fisika Kimia yg sangat populer di Bukittinggi.Di SMA Nofil juga mengasah bakat kepemimpinannya, disamping menjadi "Pemimpin Informal" diantara kawan-kawannya, Nofil juga menjadi Ketua Kelas 3 Fis 1, kelas para jawara , karena merupakan kelas unggulan, kumpulan pelajar dengan rangking atas pada saat itu . Nofil juga mendukung kegiatan OSIS dengan ikut menjadi pengurus.
Dari Kota Bukittinggi, Nofil Anoverta melanjutkan pendidikannya ke Kota Bandung, tepatnya ke Universitas Parahiangan.Kepergian Sang Ayah saat Nofil baru saja menyelesaikan ujian semester 2, membuatnya harus mengambil alih peran Ayahanda tercinta Drs Nazwar Kamin.
Sbagai anak tertua, Nofil kemudian mengambil alih tanggung jawab almarhum ayahnya ,untuk meneruskan kelangsungan hidup keluarga.Nofil kemudian membantu Ibunda Hj Iswarni, untuk mengendalikan roda kehidupan keluarga agar tetap berjalan dengan baik.Di usia muda,Nofil telah terbiasa menghadapi tantangan, sehingga hal itu menjadi bekal hidupnya dalam menghadapi berbagai persoalan.Setelah 33 tahun berlalu, Nofil teringat dengan perjuangan ayahanda Nazwar Kamin dalam membangun Kota Bukittinggi.
Terminal dan Pasar Aur Kuning, Jalan Bypass merupakan legacy, hasil karya Pemda Bukittinggi termasuk Ayahanda Nazwar Kamin di masa itu."Setelah 33 tahun berlalu, saya belum melihat lagi ada pembangunan yang seperti itu di Kota Bukittinggi," kata Nofil pula.
Sebagai Rang Rantau yang dibesarkan di Bukittinggi, terasa sekali "Kampuang Maimbau" menunggu kiprahnya."Saya merasa terpanggil untuk meneruskan cita-cita dan karya yang pernah dilakukan Ayah di Kota Bukittinggi," ucapnya.
Editor : Buliran News