Scroll untuk baca artikel

Ikan Lokal Asli Indonesia yang Kian Langka & Perlu Dibudidayakan

Ikan Lokal Asli Indonesia yang Kian Langka & Perlu Dibudidayakan
Ikan Lokal Asli Indonesia yang Kian Langka & Perlu Dibudidayakan

Pada daerah Jawa ikan nilem sering ditemukan sebagai ikan budidaya karena rasanya yang lezat, dan juga telur ikan nilem yang banyak digemari sehingga dapat dijual terpisah. Hal yang perlu diperhatikan untuk budidaya ikan ini adalah kualitas air dengan kisaran pH 6,5-7 dan suhu 22-26⁰C. Selain itu pemijahan ikan nilem dapat dilakukan dengan induksi hormonal menggunakan ovaprim dengan dosis 0,6 mL/kg.4. Ikan Kancra (Neolissochilus soro)

Ikan kancra dapat ditemukan di Pulau Sumatera dan Jawa. Ikan yang juga dijuluki sebagai ikan dewa ini adalah termasuk ikan yang langka untuk ditemukan sehingga dapat menjadi alasan utama untuk membudidayakan ikan lokal ini khususnya di bagian pembenihan.

Kualitas air yang dapat mengoptimalkan pertumbuhan ikan kancra adalah untuk oksigen dengan kisaran 5-7,5 mg/L, pH 7-8, dan suhu antara 22-26°C. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Redjeki (2007), menyatakan bahwa ikan yang dapat tumbuh hingga panjang 1 meter ini, membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu untuk proses pematangan gonad.Ukuran induk ikan kancra yang telah matang gonad, memiliki panjang total (TL) antara 48.5-60 cm (betina) dan 53.8-59.0 cm (jantan). Sedangkan untuk bobot tubuh (BW) induk yang matang gonad berskisar antara 0.9-3.05 kg (betina) dan 1.38-2.33 kg (jantan). Pemijahan ikan kancra dapat dilakukan dengan induksi hormonal menggunakan HCG dan ovaprim dengan dosis 0,7 mL/kg

5. Ikan Tawes (Barbonymus gonionotus)Ikan tawes dapat ditemukan di Pulau Jawa dan Sumatera. Ikan yang dapat tumbuh hingga 30 cm ini lebih nyaman untuk hidup di daerah perairan yang tenang dan tergenang dengan suhu air antara 22-28⁰C.

Selain perairan yang tenang, ikan yang berpotensi untuk dibudidaya ini juga kerap ditemukan pada perairan yang luas. Jika anda ingin membudidayakan ikan tawes, maka ikan ini dapat dipelihara dengan baik pada tambak air payau hingga pegunungan dengan tinggi 800 m di atas permukaan laut.

Ikan dengan sisik keperakan ini bersifat herbivora dan utamanya memakan tumbuh-tumbuhan seperti Hydrilla, aneka tumbuhan air, dan dedaunan yang terjatuh ke sungai. Sifatnya yang herbivora dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan gulma air. Pemijahan ikan tawes dapa dilakukan dengan induksi hormonal menggunakan ovaprim dengan dosis 0,3 mL/kg6. Ikan Belida (Chitala lopis)

Ikan belida terkenal sebagai bahan dasar makanan khas Palembang yaitu pempek dan kerupuk kemplang. Ikan lokal yang berpotensi untuk dibudidayakan ini dapat ditemukan di Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Ikan belida lebih aktif pada malam hari dan mulai merespon makanan pada sore hari. Ikan yang bentuknya seperti bilah pisau ini suka untuk tinggal di perairan yang cenderung gelap seperti sungai-sungai yang ditumbuhi pepohonan. Pertumbuhan ikan belida dapat mencapai panjang tubuh 150 cm dengan berat 1,5-7 kg.

Satu ekor ikan belida dapat dihargai mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 400.000. Selain sebagai ikan konsumsi, coraknya yang menarik dari tubuhnya juga dapat menjadikannya sebagai ikan hias.Dalam upaya budidayanya, ikan belida dapat dipijahkan secara alami menggunakan substrat berupa eceng gondok. Selain itu ikan belida umumnya akan menempelkan telurnya di antara pepohonan yang sudah mati di dalam rawa-rawa dengan kedalaman sekitar 1-2 meter.

7. Ikan betutu (Oxyeleotris marmorata)Ikan betutu atau yang dikenal dengan nama ikan gabus malas, hampir dapat ditemukan di seluruh Indonesia, seperti di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Ikan betutu merupakan ikan air tawar yang menyukai perairan tenang atau di lokasi yang arus airnya tidak deras, serta terlindung oleh tumbuhan air. Di alam terbuka. ikan ini dapat tumbuh hingga 65 cm namun umumnya hanya berukuran 20-40 cm atau kurang.

Ikan asli Indonesia ini dapat dibudidayakan dengan menyediakan tempat persembunyian seperti pipa-pipa paralon. Atau jika anda memelihara ikan betutu dalam kolam tanah, pada dasarnya ikan ini senang menempel di dasar perairan yang berlumpur pada kedalaman kira – kira 40 cm Sedangkan untuk pemijahannya sendiri dilakukan secara alami menggunakan substrat berupa tonggak kayu. ***

Editor : Buliran News
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini