Scroll untuk baca artikel

Ketika Empat Nomor Urut Berhadapan dengan Satu Kepentingan Nagari. Oleh: Eka Puji Lestari, M.Pd.

Ketika Empat Nomor Urut Berhadapan dengan Satu Kepentingan Nagari. Oleh: Eka Puji Lestari, M.Pd.
Ketika Empat Nomor Urut Berhadapan dengan Satu Kepentingan Nagari. Oleh: Eka Puji Lestari, M.Pd.

Sejarah tersebut tentu memberikan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Bidar Alam. Namun sejarah juga menghadirkan tanggung jawab. Jika dahulu para pejuang mempertahankan keberlangsungan Republik dalam situasi yang sangat sulit, maka generasi sekarang memiliki tugas mempertahankan nilai persatuan, gotong royong, dan kepentingan masyarakat dalam kehidupan nagari. Pilwana seharusnya menjadi bagian dari ikhtiar tersebut.

Demokrasi di nagari harus mampu melahirkan kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat, terbuka dalam menjalankan pemerintahan, mampu merangkul seluruh kelompok, serta memiliki orientasi pada kemajuan nagari.

P2WN Menjaga Proses, Masyarakat Menjaga Suasana

Panitia memiliki tanggung jawab memastikan tahapan berjalan sesuai aturan. Tetapi suasana Pilwana merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, masyarakat perlu memberikan ruang kepada seluruh calon untuk menyampaikan visi dan misi secara proporsional.

Jangan biarkan informasi yang belum jelas menjadi sumber pertengkaran.

Jangan biarkan perbedaan pilihan berubah menjadi saling menjatuhkan.

Dan jangan sampai pesta demokrasi yang seharusnya menjadi sarana memilih pemimpin justru meninggalkan luka sosial di tengah masyarakat. Para pendukung calon juga memiliki posisi penting. Dukungan sebaiknya diwujudkan melalui penyampaian program dan gagasan, bukan dengan menyerang pribadi calon lain.

Bersaing dalam gagasan, bersanding dalam persaudaraan.

Itulah semangat yang perlu dibangun. Siap Menang, Siap Kalah, Siap Membangun Setiap kompetisi memiliki hasil. Ada yang mendapatkan amanah lebih banyak dari masyarakat dan ada yang belum memperoleh kesempatan. Namun dalam konteks pemerintahan nagari, kemenangan seorang calon bukan berarti kemenangan kelompok tertentu saja.

Ketika seseorang terpilih menjadi Wali Nagari, ia memikul amanah seluruh masyarakat. Karena itu, seorang calon harus siap menerima hasil pemilihan dengan lapang dada. Begitu pula masyarakat harus siap menerima hasil tersebut sebagai bagian dari proses demokrasi sesuai ketentuan yang berlaku. Yang terpilih nantinya hendaknya tidak hanya menjadi Wali Nagari bagi orang-orang yang memilihnya, tetapi menjadi Wali Nagari bagi seluruh masyarakat Bidar Alam. Sementara calon yang belum terpilih tetap memiliki ruang untuk memberikan kontribusi melalui pemikiran, pengalaman, dan pengabdian kepada nagari. Sebab pembangunan nagari tidak mungkin hanya dikerjakan oleh satu orang.

Editor : Buliran News
Bagikan

Berita Terkait
Terkini