Dari Pilwana Menuju Persatuan
Kini empat nama telah mendapatkan nomor urut.
Nomor 1, nomor 2, nomor 3, dan nomor 4.
Masing-masing akan membawa gagasan, pengalaman, dan harapan kepada masyarakat. Biarlah masyarakat menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan masing-masing. Yang harus kita jaga bersama adalah satu hal: Bidar Alam tetap satu. Setelah surat suara dicoblos dan hasil ditetapkan, tidak boleh ada lagi sekat nomor 1, nomor 2, nomor 3, atau nomor 4. Yang ada adalah masyarakat Bidar Alam. Yang ada adalah satu nagari. Yang ada adalah satu kepentingan: bagaimana Bidar Alam menjadi nagari yang semakin maju, mandiri, berbudaya, dan sejahtera.
Dalam falsafah Minangkabau kita mengenal:
“Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.”Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Maka, siapa pun yang nantinya mendapatkan amanah masyarakat, mari kita beri kesempatan untuk bekerja. Dan siapa pun yang belum mendapatkan amanah, tetaplah menjadi bagian dari kekuatan nagari. Sebab sejatinya, Pilwana hanya berlangsung satu hari, tetapi persaudaraan masyarakat nagari harus dijaga sepanjang masa. Nomor boleh berbeda. Pilihan boleh berbeda. Tetapi Bidar Alam tetap satu. Dan dari perbedaan pilihan itulah, semoga lahir kepemimpinan yang mampu menyatukan seluruh masyarakat untuk melangkah bersama menuju masa depan nagari yang lebih baik.
Menang Jangan Membusungkan Dada, Kalah Jangan Kehilangan Harga Diri.
Dalam setiap kompetisi, ada yang mendapatkan amanah dan ada yang belum mendapatkan kesempatan. Namun dalam demokrasi nagari, kemenangan tidak semestinya menjadi alasan untuk membusungkan dada. Begitu pula kekalahan tidak semestinya menjadi alasan untuk kehilangan harga diri. Calon yang mendapatkan amanah masyarakat nantinya harus memahami bahwa ia bukan hanya pemimpin bagi pendukungnya.
Editor : Buliran News